Pengertian Valuasi Startup dan Cara Hitungnya pada Tahap Awal Bisnis

e0a9x – Kamu mungkin pernah mendengar istilah startup Unicorn, yang merupakan sebutan untuk startup dengan valuasi di atas US$1 miliar (lebih dari Rp14 triliun). Namun pertanyaannya, apa sebenarnya pengertian dari valuasi startup? Bagaimana cara menghitungnya?

Pengertian valuasi startup

Valuasi adalah nilai ekonomi dari sebuah bisnis. Apabila ada sebuah perusahaan yang mempunyai valuasi Rp1 triliun, maka siapa pun yang ingin mengakuisisi penuh perusahaan tersebut harus mempersiapkan uang minimal Rp1 triliun. Angka valuasi ini biasanya dijadikan acuan untuk mengukur seberapa besar potensi bisnis sebuah perusahaan.

Sebagai founder suatu startupkamu perlu menghitung valuasi demi menentukan persentase saham yang akan diberikan kepada investor saat terjadi pendanaan. Valuasi ini juga penting untuk menentukan harga jual startup kamu apabila terjadi merger atau ada perusahaan lain yang tertarik untuk mengakuisisi startup milikmu.

Valuasi startup versus bisnis konvensional

Metode perhitungan valuasi startup sebenarnya serupa dengan bisnis konvensional. Namun, karena startup pada tahap awal biasanya belum mendapat pemasukan atau keuntungan (yang biasanya menjadi dasar perhitungan valuasi), maka perlu ada sedikit penyesuaian.

Untuk menghitung valuasi perusahaan konvensional, hal-hal berikut biasanya ikut dipertimbangkan:

  • Nilai perusahaan di bursa saham (market cap).
  • Nilai dari jenis saham lain yang dimiliki perusahaan (misal: saham preferen, minority interest).
  • Utang perusahaan.
  • Uang tunai yang dimiliki perusahaan.

Dari variabel-variabel tersebut, valuasi perusahaan bisa didapat dengan rumus:

Valuasi = (Nilai Saham + Utang) – Uang Tunai

Lalu bagaimana dengan startup yang belum mempunyai pendapatan dan laba? Biasanya, founder ataupun calon investor akan mempertimbangkan hal-hal seperti berikut:

  • Jumlah dan nominal transaksi.
  • Jumlah pengguna.
  • Teknologi produk.
  • Kualitas tim.
  • Kompetitor.

Perbedaan istilah valuasi Pre-Money dan Post-Money

Dalam perhitungan valuasi startup ada dua istilah penting yang harus kamu pahami, yaitu valuasi Pre-Money dan Post-Money. Sederhananya, valuasi Pre-Money adalah “harga” dari sebuah startup sebelum mendapatkan investasi, dan valuasi Post-Money adalah “harga” startup setelah investasi terjadi.

Berikut ini adalah contoh sederhana untuk memahami perbedaan valuasi Pre-Money dan Post Money:

Lalu bagaimana apabila sebuah startup telah mempunyai beberapa investor dan hendak mendapat pendanaan baru? Bagaimana cara menghitung persentase sahamnya?

Untuk itu, kamu harus menemukan jumlah lembar saham baru yang harus diterbitkan dengan rumus berikut:

Contoh perhitungan dilusi saham berdasarkan valuasi startup

Dilusi adalah penyusutan persentase kepemilikan saham dari suatu pihak yang disebabkan oleh penerbitan saham baru. Berikut adalah contoh perhitungan valuasi Post-Money dan perhitungan kepemilikan saham setelah investasi tahap awal (seed funding).

Misalkan setelah itu, startup tersebut mendapatkan pendanaan Seri A. Maka:

  • Valuasi Post-Money dari pendanaan tahap awal di atas menjadi valuasi Pre-Money untuk pendanaan Seri A.
  • Lembar saham yang sebelumnya hanya 100, kini telah bertambah menjadi 117.

Berikut adalah perhitungan kepemilikan saham untuk founder dan masing-masing investor.

Jenis saham yang bisa diberikan oleh founder kepada investor pun ada bermacam-macam, antara lain:

  • Common stock (saham umum) merupakan jenis saham yang paling umum. Pemilik saham ini mempunyai hak suara dalam pengambilan keputusan dan bisa ikut mendapat pembagian dividen (keuntungan).
  • Sedangkan pemilik preferred stock (saham preferen) akan mendapat hak-hak khusus yang tidak dipunyai pemilik saham biasa. Hak khusus tersebut bisa berupa prioritas untuk mendapatkan uangnya kembali ketika perusahaan bangkrut dan harus menjual aset, atau mendapat prioritas untuk menerima dividen. Namun pemilik saham preferen biasanya tidak mempunyai hak suara untuk menentukan kebijakan perusahaan.

Dari perhitungan di atas, kamu bisa melihat bahwa meski baru mendapat pendanaan total Rp20 miliar (Rp6 miliar saat seed funding dan Rp14 miliar saat Seri A), sebuah startup bisa mempunyai valuasi Post Money sebesar Rp55 miliar. Nominal dari valuasi cenderung akan selalu lebih besar dibanding jumlah pendanaan.

Bila diibaratkan, jumlah pendanaan itu seperti volume air, sedangkan valuasi adalah volume dari bejana yang menampung air tersebut. Apabila ada penambahan air (pendanaan), maka volume air yang tertampung di dalam bejana (valuasi) akan semakin penuh.

Situasi tersebut membuat kapasitas bejana tidak lagi representatif, sehinga harus diganti dengan bejana yang lebih besar (penghitungan valuasi kembali). Itulah mengapa biasanya penambahan nilai valuasi terjadi ketika ada pendanaan baru yang akan didapat oleh sebuah startup.

Tentukan valuasi atau nominal pendanaan terlebih dahulu?

Menurut beberapa pakar, seorang founder startup lebih baik fokus pada apa yang terbaik untuk bisnisnya saat ini, dan mulai dari menghitung berapa pendanaan yang perlu ia dapatkan. Valuasi startup seharusnya hanya dianggap sebagai hasil dari perhitungan nominal pendanaan yang dibutuhkan tersebut.

Berikut adalah beberapa hal yang harus kamu perhatikan dalam menentukan nominal target pendanaan:

  • Memperkirakan waktu yang harus dilalui sampai sebuah startup bisa mendapatkan pendanaan berikutnya. Untuk startup tahap awal, biasanya berkisar antara 12-18 bulan.
  • Dalam rentang waktu tersebut, kamu harus bisa mengembangkan sejumlah metrik penting (key metric), seperti jumlah pengguna dan transaksi yang berulang (repeat transaction).
  • Menghitung berapa uang yang akan dihabiskan dalam jangka waktu tersebut. Sebuah startup biasanya akan menghabiskan dana yang besar dalam berinvestasi pada karyawan dan teknologi.
  • Menyesuaikan agar nilai valuasi yang dihasilkan nanti tidak berbeda jauh dengan valuasi startup lain di Indonesia.

Cara menghitung valuasi Pre-Money untuk startup tahap awal

Untuk menentukan valuasi Pre-Money, sebenernya ada dua jenis perhitungan, yaitu:

  • Menggunakan metodologi, seperti Discounted Cash Flow, Comparable, dan Berkus, yang akan dijelaskan di bawah.
  • Tanpa metodologi, atau yang biasa disebut dengan istilah Pricing. Founder hanya perlu menghitung jumlah pendanaan yang mereka perlukan dan saham yang rela mereka berikan, lalu melakukan negoisasi dengan sang investor.

Pada kenyataannya, untuk startup tahap awal, kebanyakan founder dan investor di Indonesia lebih sering menggunakan teknik Pricing ini dalam menentukan valuasi startup.

Hal ini terjadi karena perusahaan modal ventura (VC), yang biasa memberi pendanaan kepada startup, memang mengincar keuntungan dari penjualan kembali saham yang mereka miliki. Karena itu, mereka cenderung memperkirakan berapa harga jual yang tepat untuk startup tersebut di kemudian hari, ketika hendak memberi pendanaan.

Hal ini berbeda dengan investor konvensional yang biasanya memberikan pendanaan kepada perusahaan untuk meraih keuntungan dari pembagian laba (dividen).

“Penentuan valuasi untuk startup lebih seperti seni (art) dibanding sains,” ujar seorang investor dari perusahaan modal ventura kepada Tech in Asia Indonesia. Untuk memberikan acuan dalam menentukan harga yang pantas, para VC biasanya akan menggunakan metode-metode penentuan valuasi yang ada.

Perbedaan perhitungan valuasi startup di berbagai fase

1. Tahap Awal

  • Di tahap ini kamu bisa mendapat pendanaan tahap awal (seed funding) dari inkubator, angel investor, atau perusahaan modal ventura (VC).
  • Mayoritas VC tanah air biasanya akan menggunakan metode ComparableMultiple, atau menentukan valuasi berdasarkan faseperkembangan startup di tahap ini. Beberapa dari mereka ada yang menggunakan lebih dari satu metode, lalu mencari rata-rata valuasi yang dihasilkan dari metode-metode tersebut.
  • Kualitas tim merupakan sesuatu yang penting di tahap ini. Karena itu, founder yang telah mempunyai latar belakang dan pengalaman yang baik berpotensi mendapatkan pendanaan dan valuasi lebih besar.
  • Di tahap ini, biasanya startup akan memberikan saham sekitar 10-15 persen kepada investor. Namun ada juga startup yang setelah bernegosiasi bisa hanya memberikan 5-10 persen saham, atau justru memberikan saham di atas 15 persen.
  • Beberapa VC juga cenderung memilih opsi obligasi konvertibel (convertible note) di tahap ini. Obligasi konvertibel merupakan utang yang bisa dikonversi menjadi kepemilikan saham dalam jangka waktu tertentu (biasanya ketika startup mendapat pendanaan lanjutan).
  • Apabila startup yang memberi obligasi konvertibel gagal mendapat pendanaan lanjutan, mereka harus mengembalikan utang tersebut beserta bunganya. Sebenarnya VC tidak terlalu menginginkan hal tersebut, karena keuntungan dari bunga terlalu kecil untuk model bisnis mereka. Pada umumnya, VC akan tetap mengubah pendanaan mereka menjadi saham dan membantu startup tersebut mendapat pendanaan lanjutan.
  • Bila VC menerima tawaran obligasi konvertibel, maka kamu tidak perlu menentukan valuasi pada saat itu. Kamu baru harus menentukan valuasi ketika mendapat pendanaan selanjutnya.

2. Tahap Berkembang

  • Di tahap ini, kamu bisa mendapat pendanaan Seri A, Seri B, dan selanjutnya dari para investor.
  • Karena di tahap ini startup biasanya sudah mempunyai pendapatan atau pengguna dengan jumlah yang cukup banyak, VC bisa lebih bebas menggunakan beberapa metode, seperti Comparable, Multiple, Discounted Cash Flow, atau Venture Capital Method.

3. Tahap Exit

  • Di tahap ini, kamu bisa mempertimbangkan antara melakukan mergerdiakuisisi perusahaan lain, atau masuk bursa saham. Beberapa founderdan investor pun bisa melakukan exit tanpa menerima uang, namun mereka justru menerima sebagian saham dari perusahaan yang mengakuisisi (seperti yang terjadi antara Uber dan Grab di Asia Tenggara).
  • Apabila ada perusahaan yang ingin mengakuisisi untuk selanjutnya menjalankan bisnis tersebut, kamu bisa menentukan valuasi atau harga jual dengan metode Comparable dan Discounted Cash Flow.
  • Apabila ada perusahaan yang ingin melakukan akuisisi karena tim kamu (acqui-hiredan akan menutup layanan tersebut setelah akuisisi, mereka biasanya akan membayar sesuai dengan jumlah tim yang akan mereka pertahankan.

11 macam metode untuk menghitung valuasi startup

Terdapat berbagai cara menentukan nilai valuasi dari suatu startup

1. Metode Comparable Transactions

Comparable adalah metode yang bisa digunakan baik oleh startup yang belum ataupun sudah memperoleh pendapatan. Dengan metode ini, kamu bisa mendapatkan valuasi untuk startup milikmu dengan cara membandingkan beberapa metrik, antara lain:

  • Gross Merchandise Value (GMV).
  • Jumlah pendapatan.
  • Pendapatan bulanan yang berulang (monthly recurring revenue) untuk startup Software as a Service (SaaS).
  • Jumlah pengguna aktif mingguan untuk aplikasi mobile.

Sebagai contoh, ada sebuah startup dengan jumlah pengguna aktif 10 juta orang baru saja diakuisisi perusahaan lain seharga Rp100 miliar. Maka apabila kamu memiliki startup serupa dengan 2 juta pengguna aktif, maka kamu bisa mengatakan bahwa valuasi startup kamu Rp20 miliar.

Untuk mendapatkan valuasi dari startup lain, kamu bisa melihat dari data yang disebutkan di media, meskipun hal ini jarang terjadi. Atau apabila perusahaan yang kamu jadikan acuan telah masuk bursa saham, kamu juga bisa melihat market cap dari perusahaan tersebut.

Contoh penerapan metode Comparable:

2. Metode Multiple

Metode Multiple sebenarnya serupa dengan metode Comparable. Bedanya, di metode ini kamu tidak perlu mencari data dari startup lain, namun hanya perlu mencari faktor pengali (multiple) yang biasa digunakan dalam bisnis yang kamu masuki. Contoh multiple dari beberapa industri bisa kamu lihat di tautan berikut.

Berikut ini adalah contoh penerapan metode Multiple:

Sebuah startup misalnya bergerak di bidang e-commerce. Karena itu, mereka mendapatkan angka multiple sesuai dengan industri mereka, dan melakukan perhitungan seperti di bawah.

Ketiga hasil valuasi tersebut kemudian dirata-rata, hingga didapatkan angka valuasi Rp20,2 miliar.


3. Metode Discounted Cash Flow

Discounted Cash Flow (DCF) adalah metode yang memperkirakan valuasi perusahaan berdasarkan prediksi arus kas masuk dan keluar di sebuah startup dalam jangka waktu beberapa tahun ke depan. Dari situ, kita bisa menghitung berapa keuntungan yang akan didapat oleh startup tersebut, misalnya di tahun ketiga.

Karena pengaruh inflasi, nilai uang akan mengalami depresiasi dari waktu ke waktu. Itulah mengapa jumlah keuntungan tersebut harus dikurangi tingkat inflasi. Selain itu, angka tersebut juga harus dikurangi risiko kegagalan perusahaan mencapai arus kas yang diharapkan.

Metode ini sebenarnya lebih cocok untuk perusahaan besar yang telah masuk bursa saham, dengan laporan keuangan yang terbuka. Metode ini tidak cocok untuk startup dengan risiko kegagalan yang tinggi, dan belum meraih keuntungan. Cocok untuk perusahaan konvensional kecil dengan kondisi keuangan yang lebih terprediksi.

Contoh penerapan metode DCF:

Sebelum memulai, kamu harus mengetahui terlebih dahulu istilah-istilah berikut.

  • Discount Rate (r), yaitu angka yang menunjukkan depresiasi nilai mata uang, serta persentase keuntungan yang ingin didapat oleh investor. Angka ini nantinya harus dimasukkan ke dalam rumus agar kamu bisa mendapat angka Discounted Cash Flow (DCF).
  • Terminal Value, yaitu nilai yang menunjukkan total keuntungan perusahaan setelah melewati periode yang masuk dalam proyeksi perhitungan DCF. Biasanya diasumsikan setelah melewati periode yang masuk dalam proyeksi DCF, pertumbuhan keuntungan perusahaan akan relatif stagnan.

4. Metode Venture Capital (Waterfall)

Seperti namanya, metode ini merupakan cara perhitungan valuasi dari sudut pandang perusahaan modal ventura (VC). Karena itu, metode ini membutuhkan data-data berikut:

  • Target keuntungan yang ingin didapat VC
  • Berapa perkiraan nilai jual perusahaan dalam waktu beberapa tahun ke depan

Contoh penerapan metode Venture Capital:

5. Penentuan valuasi berdasarkan fase

Demi memudahkan penentuan valuasi, ada beberapa angel investor dan perusahaan modal ventura (VC) yang lebih memilih untuk langsung menentukan kisaran valuasi di setiap tahap perkembangan startup. Semakin jauh perkembangan sebuah startup, berarti risiko investasi di startup tersebut akan semakin kecil, sehingga sang investor bisa menentukan valuasi yang lebih besar.

Sebagai contoh, angel investor dan VC bisa membuat panduan seperti berikut:

  • Startup yang masih dalam tahap pengembangan ide = valuasi antara Rp3,5 miliar-Rp7 miliar
  • Startup dengan ide dan rencana bisnis yang menarik = valuasi antara Rp7 miliar-Rp14 miliar
  • Startup dengan tim founder yang berpengalaman = valuasi antara Rp14 miliar-Rp28 miliar
  • Startup yang sudah mempunyai prototipe produk = valuasi antara Rp28 miliar-Rp56 miliar
  • Startup yang telah menjalin kerja sama strategis untuk mendapatkan pengguna = valuasi lebih dari Rp56 miliar

6. Metode First Chicago

First Chicago adalah metode yang berusaha menganalisis setiap kemungkinan yang terjadi di masa depan sebuah startup, mulai dari situasi terburuk, situasi normal, dan situasi terbaik. Untuk setiap situasi tersebut, kita harus menghitung valuasi dengan berbagai metode yang telah disebutkan di atas.

Contoh penerapan metode First Chicago:

7. Metode Berkus

Metode yang didesain oleh seorang angel investor bernama Dave Berkus ini merupakan cara paling sederhana dalam menentukan valuasi sebuah startup. Cara ini cocok untuk startup yang memenuhi kriteria berikut:

  • Sama sekali belum menerima pendapatan.
  • Bisa mendapat pendapatan tahunan di atas US$20 juta (sekitar Rp280 miliar) di tahun kelima.

Kamu hanya perlu menentukan valuasi dari lima hal penting dalam perkembangan startup berikut:

  • Ide dasar.
  • Teknologi.
  • Kualitas tim.
  • Kerja sama strategis yang telah didapat.
  • Cara penjualan.

Sebagai patokan, Berkus menetapkan bahwa nilai maksimal dari setiap variabel di atas tidak boleh melebihi angka US$500.000 (sekitar Rp7 miliar).

Contoh penerapan metode Berkus:

Menurut Berkus, angka yang ia tetapkan tersebut bisa saja diubah, tergantung dari industri dan lokasi di mana startup tersebut berada. Karena itu, kamu bisa menyesuaikan valuasi yang kamu tetapkan dengan rata-rata valuasi untuk startup tahap awal di Indonesia.

Kamu pun bisa mengubah variabel-variabel yang digunakan. Contoh, apabila kamu bergerak di bidang kesehatan dan finansial, mungkin kamu bisa mengganti kategori “kerja sama strategis” dengan “izin dari regulator”.


8. Metode Risk Factor Summation (RFS)

Serupa dengan metode Berkus, metode RFS juga cocok untuk para startupyang belum memperoleh pendapatan. Namun untuk menggunakan metode ini, kamu harus terlebih dahulu mengetahui rata-rata valuasi dari startupserupa yang ada di Indonesia.

Setelah itu, kamu harus membandingkan dua belas faktor risiko berikut.

  • Risiko manajemen.
  • Risiko kematangan bisnis.
  • Risiko politik.
  • Risiko pembuatan produk.
  • Risiko penjualan produk.
  • Risiko pendanaan.
  • Risiko kompetisi.
  • Risiko teknologi.
  • Risiko hukum.
  • Risiko ekspansi internasional.
  • Risiko reputasi perusahaan.
  • Kemungkinan exit (diakuisisi perusahaan lain).

Untuk setiap parameter di atas kamu harus menunjukkan bagaimana posisi startup kamu bila dibandingkan dengan startup lain, apakah sangat positif, positif, netral, negatif, atau sangat negatif. Semua pengaruh tersebut nantinya harus dimaknai secara finansial, guna menentukan valuasi dari startup kamu.

Contoh penerapan metode RFS:

9. Metode Scorecard

Metode Scorecard sebenarnya serupa dengan metode RFS. Namun metode yang sering disebut dengan metode Bill Payne ini menggunakan variabel penilaian yang lebih sedikit. Masing-masing variabel tersebut juga diberikan bobot, berdasarkan seberapa penting variabel tersebut dalam perkembangan startup.

Ada tujuh variabel yang harus kamu tentukan dengan metode ini.

  • Kualitas tim (bobot 30 persen).
  • Peluang pasar (bobot 25 persen).
  • Kualitas produk (bobot 15 persen).
  • Sarana penjualan (bobot 10 persen).
  • Kematangan bisnis (bobot 10 persen).
  • Kebutuhan untuk pendanaan selanjutnya (bobot 5 persen).
  • Masukan pengguna/faktor lain (bobot 5 persen).

Hasil perhitungan dari setiap variabel tersebut, nantinya akan dibandingkan dengan rata-rata valuasi dari startup tahap awal lain yang menjalankan bisnis serupa serta berada di lokasi yang sama.

Contoh penerapan metode Scorecard:

10. Metode Cost to Duplicate

Metode ini berusaha menghitung valuasi startup dari biaya yang dibutuhkan apabila kamu ingin membuat startup lain yang serupa. Karena itu, metode ini akan akan memperhitungkan:

  • Nilai aset yang dimiliki oleh sebuah startup.
  • Jam kerja yang dibutuhkan para developer dari startup tersebut untuk mendesain dan membuat produk yang kemudian diluncurkan ke masyarakat.

Kekurangan utama dari metode ini adalah hanya memperhitungkan kondisi startup di masa sekarang, dan bukan di masa depan. Karena itu, cara ini biasanya hanya digunakan untuk menentukan valuasi minimal dari sebuah startup.


11. Metode perhitungan aset

Selain itu, ada juga metode bernama Book Value, yang menentukan valuasi dengan cara menghitung nilai aset yang kamu miliki, seperti gedung, furnitur, dan perangkat elektronik.

Selain itu ada juga metode bernama Liquidation Value yang menghitung nilai aset apabila startup kamu tiba-tiba bangkrut dan harus menjual aset tersebut. Valuasi dari Liquidation Value jelas akan lebih kecil dibanding Book Value, karena harga aset yang harus dijual cepat ketika startup bangkrut tentu akan lebih kecil dibanding saat normal.

Namun karena mayoritas startup merupakan perusahaan teknologi yang tidak mempunyai banyak aset, kedua metode ini tidak cocok untuk digunakan oleh mayoritas startup.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *